Warung Kopi Menu Ceceran fikiran

Mei 21, 2008

Indonesia Harus Mengenali Potensi Diri….

Diarsipkan di bawah: Freak Zone — kofii takar @ 12:01 am

Laut
70% wilayah Indonesia adalah laut.
Kalo jaman dulu kita dikenal sebagai pelaut handal, artinya masyarakat kita dalam track yang benar.
Indonesia atau yang dulunya dikenal sebagai Nusantara menjadi negeri yang mengenali potensi sesungguhnya. Setiap sendi kehidupan menjurus ke pengelolaan potensi tersebut dengan sungguh-sungguh. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi expert. Detail potensi itu akhirnya dikuasai dan melahirkan sebuah bangsa yang unggul. Keunggulan selalu melahirkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri pada pengelolaan potensi sumber daya laut sebagai pondasi kehidupan ekonomi, politik, sosial masyarakat dan negara mengantarkan pada kemakmuran. Malah, Gadjah Mada dengan rasa percaya diri yang mengagumkan membawa ide ide Nusantara ke belahan dunia lainnya.

Berabad kemudian, siapa yang menyangka kalau saat ini menjadi seorang nelayan seperti berada pada strata rendahan, kapal asing dengan gampang masuk dan mencuri diperairan Indonesia dan laut bukan lagi potensi yang membuat bangsa kita unggul. Kebanyakan kita melirik industri lainnya, melirik menjadi pegawai negeri saja atau bekerja kantoran dan memilih ke laut untuk sekedar berdarmawisata. Bayangkan kalau seandainya pada zaman dulu anda berdarmawisata ke pantai atau laut dan bertemu armada perang patih Gadjah Mada yang kebetulan sedang bersiap siap mengamankan perairan Nusantara. Pastinya, anda bukan saja akan terdiam seribu bahasa tapi anda juga akan mengerti betapa Nusantara adalah sebuah ide besar tentang negeri yang makmur dan penuh rasa percaya diri karena masyarakatnya yakin akan potensi dirinya dan mengelolanya dengan baik dapat menciptakan sebuah keunggulan.

Thomas-Uber.

Salah satu jenis olahraga yang memasyarakat adalah bulutangkis. Prestasi bangsa ini sangat mengagumkan dimasa lalu. Tapi, akhir-akhir ini prestasi itu cenderung menurun kalau kita mengambil piala Thomas dan Uber sebagai parameter kedigdayaan sebuah negara dalam pembinaan olahraga bulutangkis.

Soal skill individu atlet Indonesia tidak perlu diragukan lagi.
Soal minat masyarakat menonton juga tidak kalah antusiasnya.

Tetap saja sederet poin yang menyimpulkan bahwa olahraga bulutangkis merupakan sebuah potensi besar tidak dapat menjadikan olahraga ini menjelma menjadi industri olahraga yang menguntungkan. Para orangtua pasti takut anaknya bercita-cita menjadikan bidang ini sebagai cita-cita profesi. Ketakutan yang beralasan mengingat olahraga bukanlah sebuah industri yang mendatangkan rasa aman dan nyaman untuk sebuah masa depan seseorang di negeri ini.

Akhirnya, ketika ditanyakan maka pembina olahraga cuma berani memasang target sampai semifinal !
Padahal bangsa kita adalah bangsa juara…….

Dari catatan diatas meyakinkan aku bahwa Indonesia selalu melompat lompat dalam mengenali potensinya.
Ketika laut telah membuktikan bahwa Nusantara menjadi negeri yang unggul tapi saat ini malah ditelantarkan.
Ketika potensi pemikiran dan keilmuan anak bangsa terbukti diakui masyarakat dunia dengan lahirnya politisi, ilmuwan, engineer atau seniman kelas dunia malah dunia pendidikan dapat porsi rendah dalam alokasi anggaran negara.
Ketika olahraga bulutangkis dan sepakbola pernah punya masa yang sangat mengagumkan tapi malah pembinanya cuma berani pasang target yang jauh dibawah potensi sesungguhnya…….

ah, masih banyak lagi kalau ingin diungkapkan

Indonesia harus segera fokus mengenali potensi diri. Potensi yang mencipkatan keunggulan. Keunggulan yang akan mengantarkan rasa percaya diri. Percaya diri untuk mengelola bangsa dan negara menuju Indonesia Makmur dan Digdaya.

</div>
MAJU INDONESIA KU !

Mei 15, 2008

Pertikaian Imajinatif….

Diarsipkan di bawah: Freak Zone — kofii takar @ 12:49 am

Bagaimana kalau tiba tiba anda memiliki musuh dalam sebuah pertikaian imajinatif ?

Banyak yang meyakini bahwa mengemukakan pendapat / bersuara sebebasnya adalah bagian dari demokrasi.
Jika saja itu benar maka kebebasan bersuara seperti apa yang betul mewujudkan demokrasi ?
Ataukah ini cuma jalan membiakkan keegoisan dan arogansi diri ?

Kalau saja, kebebasan berbicara membonceng motif balas dendam atau ‘menghukum’ pribadi seseorang maka jadinya adalah umpatan dan lemparan pelor kata kata kotor, atau cemoohan yang menyakitkan dan merendahkan martabat bahkan fitnah untuk menjatuhkan seseorang. Harapan si pengumpat agar yang menjadi ‘lawan’ imajinernya itu jatuh KO.

Disebut pertikaian imajinatif karena biasanya persinggungan dan persoalan yang menjadi akar permusuhan tidak dipahami kedua belah pihak secara sama dan berimbang. Bahkan mungkin salah satunya hanya bisa menebak nebak akar permasalahan tersebut tanpa tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Beda dengan pertikaian Tyson vs Holyfield yang berujung dengan gigitan di telinga.
Beda pula dengan perang Troy yang meluluh lantakkan peradaban !
Dan sangat beda sekali dengan perselisihan yang berujung dengan mengambil bentuk penyelesaian lewat jalur hukum….
Pertikaian imajinatif sangat kotor dan tidak gentle.

Seorang kepala bagian awalnya menghasut staffnya untuk memusuhi seorang bendahara pada sebuah kantor karena si bendahara tidak mau meloloskan begitu saja permintaan dana yang ‘mencurigakan’ dari si kepala bagian. Tidak puas dengan ‘perlawanan’ yang ditunjukkan, fitnahpun di tebar ke seantero kantor. Yang terhasut akan ikut memusuhi walaupun bentuk permusuhan itu juga tidak kokoh dan mudah cair oleh sebuah penjelasan yang logis. Tapi, tetap saja pernah secara sadar terlibat dalam pertikaian imajinatif.

Dan biasanya pertikaian model begini tidak enak kalo cuma X vs Y. Yang lebih sering adalah terjadinya kubu kubuan. Jadi, ketika anda dekat dengan X maka secara otomatis anda musuh juga bagi si Y. Dan Y tentu saja akan menggalang dukungan dari lingkungan pergaulannya untuk menghadapi apa yang disebut mereka kubu X.

Terasa mudah dan enteng bagi kita untuk memusuhi seseorang yang tidak disukai kalau tidak saling kenal secara pribadi, posisi / jabatan kita lebih tinggi, atau kita punya agenda tersembunyi yang bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga orang orang disekeliling kita memiliki perasaan memusuhi yang sama. Terbawa arus.

Alasan rasa tidak suka itu muncul karena……?

Kita punya otak yang dapat sangat manipulatif mengenai nilai kebenaran diri atau nilai kebenaran yang kita yakini.
Cara kerja otak memanipulasi sangat spektakuler, otak dengan sangat mudah dapat membuat sebuah rekayasa kesimpulan tanpa perlu filter dari hati nurani maupun logika. Apalagi kalau cemoohan, makian, ejekan dianggap sebagai poin merebut tropi kemenangan dan kesuperioritasan. Yang di cemooh, di maki dan diejek akan terlihat sebagai makhluk lemah tak berdaya dan bisa di jajah layaknya hukum rimba. Yang kuat menjadi raja. Mendapat pengakuan sebagai raja tentu saja mengasikkan. Dan kalaupun anda tidak menjadi raja maka sebagai pengikut sudah cukup membuat anda terlihat hebat dan kuat dalam menindas orang lain.

Seperti ketika melihat perceraian artis di infoteinmen, Terdakwa dan Korban dari dua manusia bercerai itu akan ditentukan berdasarkan arahan pemberitaan. Secara tidak sadar emosi kita akan dilabuhkan pada pihak yang kita anggap dapat membuat kita nyaman, yang dapat membuat perasaan kita terwakili.

Langsung saja,

‘Heh, dasar laki laki brengsek suka selingkuh !
atau
‘Dasar perempuan gak tau diri !

Tapi, sampai dimana kita meyakini bahwa dukungan kita terhadap salah satu pihak telah sepadan dengan realitas yang cuma dihadapi oleh pasangan bercerai tersebut ? jawabannya tidak ada ! toh, kita cuma berniat menjadi penikmat semata atas sebuah tragedi / musibah orang lain. Dan umpatan / makian yang kita lontarkan bukan sepenuhnya sebagai bentuk dukungan saja tapi lebih kepada luapan rasa senang apabila dapat menyakiti mereka yang mendukung pihak lain buktinya rasa prihatin pada salah satu pihak yang kita dukung berakhir ketika pemberitaan itu selesai dan kita kembali pada realitas hidup masing-masing. Gak ada yang mau tahu tentang keadaan sebenarnya yang dihadapi pasangan bercerai tersebut kalau keadaan itu malah mengacaukan sebuah keberpihakan.

Bagi pribadi yang mendapatkan cemoohan atau celotehan miring pasti berat menghadapinya. Yang ada 100 % otak kita yang terserang langsung akan membuat skema pembalasan. Balik memaki dan mencemooh adalah solusi paling cepat.
Atau tetap memasang akal sehat dan menganggap itu cuma pertikaian imajinatif semata yang tidak perlu ditanggapi serius walau ini pilihan yang sering dianggap sebagai tindakan yang lemah.

‘menyerang adalah pertahanan terbaik’….selama filosofi ini dilakukan oleh dua orang atau dua kubu yang saling berhadapan secara jantan dalam sebuah arena pertempuran/pertarungan yang nyata tentu saja fair. Tapi kalau selalu menyerang dalam sebuah pertikaian imajinatif tentu saja sangat tidak elok dan justru terlihat sebagai tindakan seorang pengecut.

Istilahnya, ajukan protes dan keberatan atas sikap seseorang yang kita anggap salah dan tidak sesuai dengan keinginan kita langsung ke yang bersangkutan. kalau merasa salah, langsung minta maaf ke yang bersangkutan. Jangan menciptakan sebuah arena pertikaian imajinatif yang kadang justru tidak dimengerti maksud dan tujuan sebenarnya.

April 29, 2008

Selangkangan Yang Berkepribadian Ganda

Diarsipkan di bawah: Freak Zone — kofii takar @ 6:34 pm

Duduk saja di meja itu ternyata gak bikin capek dan bokong tepos. Padahal kami disana dari pukul 20.00 malam. Niatan awal sih, sekedar melepas kepenatan bagi dua temanku yang baru nyampe dibandara SSQ pukul 15.30 dari Batam.

Ngomong soal bandara SSQ, aku merasa bandara itu sudah tidak representatif lagi bagi kota Pekanbaru. Terlalu kecil untuk aktivitas yang padat. Fasilitasnya juga sangat minim sekali. Seharusnya sudah dimulai pembangunan bandara dengan kapasitas dan fasilitas kelas internasional jangan cuma renovasi kecil kecilan lagi. Kenapa tidak ?. Riau sejak era otonomi daerah seperti magnet ekonomi yang sangat diminati orang luar.Punya uang banyak untuk menggerakkan roda perekonomian. Hanya saja memiliki uang banyak mesti disertai pula dengan pengelolaan yang bijaksana dan sdm yang mumpuni.

Ade sesekali menyeruput cappucino dinginnya dan sesekali melepas pandangan nakal ke waitress yang berpakaian minim. Rok supermini dengan atasannya kaos tanpa lengan. Berwajah cantik, kulit putih, rambut hitam dan menebar wangi taman bunga. Amboy menyegarkan sekali.

Pertanyaan nakalpun muncul. Kok mesti berbusana setengah telanjang ? aneh juga kenapa bertanya, toh kami menikmati pemandangan menggoda itu setelah cukup puas mendapati perempuan yang berbusana biasa di sepanjang jalan menuju ketempat ini. Ketika ditanya, kata salah seorang dari mereka cara berbusana seperti itu adalah syarat menjadi karyawan. Syarat yang tidak dapat ditolak begitu saja.

Memamerkan paha dan payudara memang jamak terlihat sebagai tren berbusana. Konon itu juga upaya untuk tampil seksi. Bahasa seksi yang bagi sebagian orang tetap diartikan sebagai upaya menebar aroma rangsangan pada lawan jenis disadari atau tidak. Insting purba. Ketika minat pada lawan jenis erat kaitannya dengan fantasi seksual. Dan fantasi ini dalam bisnis bisa dikelola dan diterapkan menjadi strategi marketing, menarik perhatian calon pelanggan atau mempertahankan loyalitas pelanggan. Tentu saja tindakan itu juga klop dengan keinginan sebagian perempuan untuk mengelola ‘power of me’ terhadap lawan jenis.

Keseksian itu akhirnya bukan milik dan kesenangan diri sendiri saja tapi bisa dibagikan pula ke lawan jenis. Meski bagi masing masing gender ’seksi’ bisa diniatkan untuk hal yang berbeda tetap saja model jejaring dengan memberikan rangsangan visual begini masih cukup efektif menarik perhatian laki laki. Konyolnya, bagi laki laki menikmati ketelanjangan perempuan lain dianggap sebagai upaya peremajaan hubungannya dengan istri atau pacar tercinta.

Aku dan Sidiq juga lelaki normal yang mesti bermata lajang disaat yang tepat. Sepertinya, pemuasan hasrat seksual dengan cara seperti ini tidak masuk dalam butir” perjanjian kesetiaan dengan pasangan seumur hidup kami atau hal ini terlupa menjadi bahan diskusi sebelum menikah. Selalu saja ada ruang gelap dalam rumah kesetiaan yang di peruntukkan bagi mata turun ke hati lantas terjun bebas ke penis bagi ruang publik. Menikmati dan dinikmati bersama. Toh, bertopeng ria sudah menjadi kelaziman.

Dalam roman kehidupan berpasangan, kesetiaan menjadi topik paling awal yang sering dibahas antara laki laki dan wanita dalam menjalin hubungan. Novel, filem dan lagu banyak menyuarakan persoalan ini. Cinta dan kesetiaan. Topik yang laris manis mengalahkan persoalan persoalan lain yang jarang diperhitungkan sebelumnya seperti seputar strategi menyeimbangkan kualitas hubungan suami-istri dengan keluarga besar masing masing, konsistensi kualitas komunikasi, strategi menjaga keseimbangan antara kehangatan dalam rumah dan karir.

Ketidakseimbangan selalu dapat melahirkan bibit perpecahan walau tidak mesti tampak kasat mata. Bahkan pemimpin negara yang dulunya berjanji dan bersumpah setia untuk selalu setia bisa tidak harmonis. Meski berdiri atau berjalan beriringan tetap saja bisa lirik sana lirik sini. Apalagi keduanya juga mempunyai komunitas sendiri sendiri yang sedikit banyak bisa memberikan bias pada cara pandang tentang cinta dan kesetiaan.

Adakalanya, kalau tidak tercapai kesepakatan maka hubungan langsung bubar. Adakalanya kesetiaan seperti pasal karet. Lentur. Adakalanya kesetiaan menjadi harta karun yang dijaga siang dan malam sampai akhir hayat. Mati babak belur.

Aku teringat seorang teman yang menemukan pasangan hidupnya dari diskotik. Dua duanya nakal. Dua duanya tidak terlalu saling mengenal. Tidak ada komitmen kesetiaan meski satu tindakan mesti dipertanggung jawabkan. Sampai saat ini pernikahan mereka masih awet.

Disisi lain, basa basi kesetiaan yang acapkali di umbar pada masa pacaran terpental oleh kesibukan yang menguras energi, komunikasi dengan pasangan yang tidak lagi berkualitas dan terlalu banyak akses yang tersedia yang dapat digunakan untuk menghibur libido seksual. Membuat waitress yang setengah telanjang hanya salah satu pilihan dari banyak pilihan ketelanjangan yang bisa dinikmati.

Beberapa waktu lalu kita sempat tersentak walau mungkin itu juga kepura puraan ketika menonton berita itu bersama pasangan tercinta. Waktu itu ramai diberitakan filem drama mesum seorang anggota dewan terhormat bersama wanita lain telah tersebar luas secara tidak sengaja ke publik. Episode lanjutannya anggota dewan terhormat itu terlihat mesra lagi dengan istrinya di infoteinment untuk mengkonter efek negatip perbuatannya pada keluarga dan karir.

Sama seperti ketika seorang lelaki yang tengah dipijat dengan jari lentik perempuan menggelitik punggungnya mendapat telpon sang istri. Suami akan menjawab telpon itu dengan mesra sambil senyum. Semanis senyum pemijatnya yang sudah setengah telanjang. Meski, tidak mesti terjadi hubungan intim.

Tetap saja, sejauh ini ‘kesetiaan’ adalah misteri.

Powered by WordPress